
Konferensi Asia-Afrika 1955: Asal Usul Intelektual dan Warisannya bagi Gerakan Global Antiimperialisme
Wildan Sena Utama

oleh Andi Achdian, Daniel Hutagalung, Geger Riyanto, Hendrik Boli Tobi, Syaiful Arif, Wilson
Disunting oleh Robertus Robet dan Todung Mulya Lubis
Pengantar: Todung Mulya Lubis
Gelombang revolusi demokrasi akhir 1980-an dan perubahan politik yang terus berlangsung hingga akhir 1990-an di pelbagai kawasan, termasuk di Indonesia pada 1998, sering disebut secara optimistis sebagai “zaman hak”. Diyakini bahwa kinilah zaman ketika hak asasi manusia menjadi satu-satunya ide moral yang telah mendapat penerimaan secara universal.
Namun, optimisme tersebut rupanya tak berumur panjang. Sekalipun hak asasi telah menjadi platform dan bahasa baku dalam pergaulan antar bangsa di era globalisasi kini, namun roh dan nilai-nilai universal serta semangat revolusi demokratis yang diembuskan sebelumnya ternyata mulai padam di mana-mana. Universalitas hak asasi digerogoti secara parah di banyak tempat. Kebangkitan populisme kanan dan ultra nasionalisme membuat demokrasi melorot dari stagnasi menjadi regresi. Di negara-negara yang tradisi politiknya lebih banyak berwarna nasionalistik dengan sifat-sifat komunalisme yang kuat, penurunan demokrasi akan dengan sendirinya menyeret kemerosotan terhadap hak asasi secara fundamental.
Pelbagai penulis dalam buku ini mendeskripsikan secara lugas dan mendalam bagaimana kultur hak asasi yang universal itu tumbuh dan bernegosiasi dengan pelbagai paham dan kecenderungan yang partikular dalam sejarah dan budaya politik di Indonesia.
Belum ada ulasan. Jadilah yang pertama.

Wildan Sena Utama

Ed. Fahri Salam dan Ronna Nirmala


Ed. Sana Jaffrey dan Eve Warburton; Ihsan Ali-Fauzi
