
Kultur Hak Asasi Manusia di Negara Iliberal
Andi Achdian, Daniel Hutagalung, Geger Riyanto, dkk.

oleh Feby Dani, Bima Satria Putra
Dalam penulisan sejarah selama ini, pahlawan nasional Indonesia Ernest François Eugène Douwes Dekker, atau yang nanti mengganti nama menjadi Danudirja Setiabudi, lebih dikenal sebagai tokoh nasionalis. Ki Hajar Dewantara, salah satu kawan seperjuangannya dalam “Tiga Serangkai”, menyebut Ernest sebagai Bapak Pergerakan Nasional Indonesia. Sementara Sukarno mengaku belajar nasionalisme politik darinya.
Yang tampaknya luput dalam historiografi tersebut adalah bahwa setidaknya selama satu periode hidupnya, gagasan anarkisme sangat lekat pada pemikiran dan tindakan Ernest. Misalnya, dia bukan hanya menulis membela “aksi langsung” dibanding parlementarisme, melainkan juga terjun dalam plot penyelundupan senjata bersama jaringan revolusioner internasional. Menteri Koloni Belanda sampai menjulukinya sebagai “seorang yang ekstrem.”
Buku ini menelusuri kecenderungan-kecenderungan anarkis tersebut, bukan hanya dalam diri Ernest semata, melainkan juga dalam semangat pergerakan rakyat di Hindia Belanda secara umum awal abad ke-20, dan mencoba menjelaskan mengapa anasir-anasir anarkis ini banyak dilewatkan dalam penulisan sejarah di kemudian hari.
Belum ada ulasan. Jadilah yang pertama.

Andi Achdian, Daniel Hutagalung, Geger Riyanto, dkk.

Wildan Sena Utama

Ed. Fahri Salam dan Ronna Nirmala

Ed. Sana Jaffrey dan Eve Warburton; Ihsan Ali-Fauzi
